Tugas
Kelompok
Pengantar Bisnis
“Langkahnya Makanan Abuk-Abuk di
Daerah Penghasil Sagu”

Disusun Oleh : Kelompok 9
Riza Desri Lasari
Romi Saputra
Septia Feki Prananda
Silvia Citra
Siti Rahma Imayora
Sukendo Kurnia Pratama
Kelas : Akuntansi-2
Dosen Pembimbing : Titik Efnita,
SE, BBA (HONS), MM
Fakultas Ekonomi
Universitas Putra Indonesia “YPTK”
Padang
2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kasih yang telah melimpahkan
berkat dan anugerah-Nya kepada penulis dalam menyelesaikan tugas ini.
Penyusunan laporan ini ditunjukan sebagai tugas kelompok mata kuliah Pengantar
Bisnis di Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang.
Penulis
menyadari bahwa penyelesaian laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih
kepada :
1.
Ibu Titik Efnita, SE, BBA (HONS), MM selaku dosen mata
kuliah Pengantar Bisnis
2.
Orang tua yang telah
memberikan dukungan, baik secara material maupun moral
3.
Teman-teman yang telah
membentu dalam penyusunan tugas
ini
4.
Pihak-pihak yang tidak
dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan do’a dan dukungan yang
sangat berguna.
Semoga
Tuhan Yang Maha Kasih memberikan berkat dan anugerah-Nya kepada semua pihak
yang telah terlibat dalam proses penyelesaian tugas ini.
Penulis
menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, baik secara sistematika
maupun isi. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan dari para
pembaca. Semoga apa yang penulis bahas pada laporan ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak.
Padang, September 2016
Penulis
i
ii
5
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 2
C. Tujuan................................................................................................. 2
D. Manfaat.............................................................................................. . 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kuliner Abuk-Abuk........................................................... 3
B. Penghambat Berkembangnya Bisnis Kuliner Abuk-Abuk................ 4
BAB III PENUTUPAN
A.
Kesimpulan........................................................................................ 5
B.
Saran.................................................................................................. 5
DAFTAR PUSTAKA......................................................................... 6
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Indonesia
merupakan negara dengan kekayaan sumber daya alam yang menopang kehidupan
masyarakatnya, mulai dari kekayaan bahari hingga kekayaan hutan yang tak
terbendung banyaknya. Persoalan yang muncul hanyalah pada sumber daya
pengelolaan kekayaan tersebut hingga menjadi sesuatu yang bermanfaat. Salah
satu dari kekayaan hutan Indonesia cukup signifikan yakni tanaman sagu. Mengapa
sagu termasuk kekayaan Indonesia? Sebab dari total area hutan sagu di dunia,
Indonesia memiliki 1.000.000 hektar hutan sagu yang tersebar di beberapa
provinsi atau menguasai 51,3% hutan sagu di dunia. Sebaran lahan pohon sagu
terbesar di Indonesia terdapat di beberapa wilayah yakni Papua, Maluku, Riau,
Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.
Namun
pembangunan pangan di Indonesia dititikberatkan pada pencapaian lima komoditi
yaitu beras, jagung, gula, kedelai, dan daging sapi. Komiditi lainnya dinilai
sebagai komoditi lokal yang berperan sebagai substitusi terhadap pangan utama
tadi. Oleh karena itu, pangan lokal seperti sagu, umbi-umbian dan lain-lain
apabila dikembangkan harus memiliki strategi pengembangan.
Minimnya
pemberdayaan pohon sagu di Riau menyebabkan kuliner berbahan dasar sagu juga
berkurang. Di Indonesia banyak sekali macam-macam kuliner khas nusantara dari
berbagai bahan baku, tidak hanya dari lima komoditi pokok. Hal ini disebabkan
karena negara kita terdiri dari beberapa pulau juga beberapa provinsi.
Keanekaragaman
suku bangsa dengan budaya, bahasa, agama, dan adat istiadat yang berbeda-beda
menciptakan aneka ragam kuliner yang menjadi cirri khas masing-masing daerah.
Seperti kuliner khas Rupat Utara, Bengkalis yakni abuk-abuk. Makanan ini
mulai langkah di daerah penghasil sagu tersebut. Maka dari itu penulis
mengengkat pokokpembahasan ini sebagai tugas mata kuliah Pengantar Bisnis untuk
mengetahui lebih lanjut apa permasalahan yang sebenarnya terjadi di daerah
penghasil sagu itu sendiri.
1
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka
terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa
itu kuliner abuk-abuk?
2. Apa
saja penyebab tidak berkembangnya bisnis tersebut?
C.
Tujuan
Tugas ini bertujuan untuk mengenal dan mengetahui seluk-beluk kuliner
abuk-abuk.
D. Manfaat
1.
Manfaat Teoritis
Penulis berharap tugas
ini dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu mengenai keberagaman kuliner
yang mulai langkah di Indonesia.
2.
Manfaat Praktis
a)
Tugas
ini dapat menambah wawasan bagi masyarakat mengenai kuliner
abuk-abuk.
b)
Tugas
ini dapat menambah wawasan bagi pencinta kuliner agar lebih
mengetahui kuliner khas Indonesia yang mulai langkah.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Deskripsi
Kuliner Abuk-Abuk
Abuk-abuk adalah salah satu makanan
khas Rupat. Pulau Rupat adalah sebuah pulau di Kabupaten Bengkalis, Riau. Pulau
ini memiliki luas lebih kurang 1500 km2 dan dihuni sekitar 47.000
jiwa.
Di Rupat Utara, tepatnya di Desa
Teluk Rhu, abuk-abuk biasanya dijual penduduk setempat. Salah satu pembuat
abuk-abuk ini bernama Nahar. Dia biasa menjajakan Abuk-abuk dengan berkeliling
menggunakan sepeda. Sebiji Abuk-abuk dijualnya seharga Rp 1.000.
Abuk-abuk
yang memiliki cita rasa lezat ini merupakan sejenis kue basah. Bentuknya hampir
mirip cone atau kerucut. Sagu merupakan bahan utama dalam proses
pembuatan abuk-abuk. Selanjutnya ditambah parutan kelapa dan inti gula merah.
Kemudian dibungkus daun pisang dan dimasak dengan cara dikukus. Rasanya manis
dengan ukuran lebih kurang sekepalan tangan orang dewasa. Tekstur makanan ini
juga cukup lembut.
Menurut Nahar panganan ini
tergolong langka di Rupat Utara. Dia mengaku, saat ini tinggal seorang
dirinya yang menjual abuk-abuk.
3
B. Penghambat
Berkembangnya Bisnis Kuliner Abuk-Abuk
1.
Kualitas pengemasan
produk abuk-abuk belum baik serta pemasarannya belum tertata menyebabkan
pemasaran produk sagu masih sangat lemah.
2.
Terjadinya konversi
lahan sagu menjadi lahan persawahan melalui program transmigrasi maupun
penggunaan yang lain menyebabkan makin berkurangnya luas areal lahan sagu. Hal
ini disebabkan karena aspek regulasi tentang sagu belum optimal. Hal ini juga
disebabkan karena sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dengan
pemerintah daerah dalam pengembangan pangan lokal termasuk sagu belum berjalan
dengan baik. Sehingga bahan pokok pembuatan abuk-abuk semakin sulit untuk
ditemukan.
3.
Pengetahuan tentang
sagu belum dikenal dengan baik oleh masyarakat nonsagu maupun pemerintah, Hal
ini menyebabkan muncul penilaian terhadap makanan sagu sebagai pangan
substitusi/pengganti serta masih kurang perhatian dalam pengembangannya
4.
Di sisi lain produsen
juga memiliki modal yang terbatas untuk melakukan kegiatan pengembangan.
4
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Indonesia memiliki
berbagai macam kuliner yang tersebar di seluruh pelosok negerinya, baik itu
makanan maupun minuman. Saking banyaknya kuliner yang tercipta, tak jarang
kuliner yang menjadi ciri khas dari suatu daerah itu terlupakan bahkan hilang
dari daerahnya sendiri. Begitu pula hal yang terjadi dengan makanan khas Rupat
yakni abuk-abuk. Banyak hal yang menyebabkan makanan berbahan dasar sagu ini
hilang dari daerahnya sendiri, padahal Rupat adalah daerah penghasil sagu.
Kekayaan sumber daya alam saja tidaklah cukup, tentunya harus dibarengi dengan
sumber daya manusia yang berkualitas pula. Tak hanya itu, diperlukan pula peranan
dan campur tangan pemerintah pusat terutama pemerintah daerah dalam usaha
pengembangan sagu, baik dalam budidaya sagu maupun pengolahan hasil sagu
tersebut.
B. Saran
1.
Perlu peningkatan
kualitas petani baik melalui proses pendidikan formal maupun nonformal seperti
penyuluhan dan pelatihan. Dengan demikian, petani dapat meningkatkan sistem
pengolahan sagu dari tradisional menjadi semi mekanis dan mekanis. Sehingga
produsen makanan berbahan dasar sagu tidak kewalahan untuk mencari bahan baku
pembuatan produk.
2.
Mengembangkan sagu
sebagai komoditi pangan yang bergizi dan unggul baik untuk kebutuhan lokal,
nasional maupun global. Perlu peningkatan kualitas makanan maupun penanganan
dari hasil sagu baik kualitas gizinya maupun keragaman produk serta peningkatan
kualitas kemasan produk. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan
petani, produsen makanan maupun pendapatan asli daerah dan nasional melalui
kreativitas usaha dari komoditi sagu.
5
DAFTAR
PUSTAKA
6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar