Selasa, 06 September 2016

TUGAS 1




Tugas Kelompok


Pengantar Bisnis
“Langkahnya Makanan Abuk-Abuk di Daerah Penghasil Sagu”
Disusun Oleh : Kelompok 9
Riza Desri Lasari
Romi Saputra
Septia Feki Prananda
Silvia Citra
Siti Rahma Imayora
Sukendo Kurnia Pratama

Kelas : Akuntansi-2

Dosen Pembimbing : Titik Efnita, SE, BBA (HONS), MM

Fakultas Ekonomi
Universitas Putra Indonesia “YPTK”
Padang
2016



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kasih yang telah melimpahkan berkat dan anugerah-Nya kepada penulis dalam menyelesaikan tugas ini. Penyusunan laporan ini ditunjukan sebagai tugas kelompok mata kuliah Pengantar Bisnis di Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang.

Penulis menyadari bahwa penyelesaian laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada :

1.        Ibu Titik Efnita, SE, BBA (HONS), MM selaku dosen mata kuliah Pengantar Bisnis
2.        Orang tua yang telah memberikan dukungan, baik secara material maupun moral
3.        Teman-teman yang telah membentu dalam penyusunan tugas ini
4.        Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan do’a dan dukungan yang sangat berguna.
Semoga Tuhan Yang Maha Kasih memberikan berkat dan anugerah-Nya kepada semua pihak yang telah terlibat dalam proses penyelesaian tugas ini.
Penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, baik secara sistematika maupun isi. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan dari para pembaca. Semoga apa yang penulis bahas pada laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Padang,   September 2016


Penulis
 
 i


DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR...................................................................................    i
DAFTAR ISI.................................................................................................   ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang....................................................................................    1
B.     Rumusan Masalah..............................................................................    2
C.     Tujuan.................................................................................................    2
D.    Manfaat.............................................................................................. .   2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Kuliner Abuk-Abuk...........................................................    3
B.     Penghambat Berkembangnya Bisnis Kuliner Abuk-Abuk................    4
BAB III PENUTUPAN
A.    Kesimpulan........................................................................................    5
B.     Saran..................................................................................................    5
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................    6

ii


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan kekayaan sumber daya alam yang menopang kehidupan masyarakatnya, mulai dari kekayaan bahari hingga kekayaan hutan yang tak terbendung banyaknya. Persoalan yang muncul hanyalah pada sumber daya pengelolaan kekayaan tersebut hingga menjadi sesuatu yang bermanfaat. Salah satu dari kekayaan hutan Indonesia cukup signifikan yakni tanaman sagu. Mengapa sagu termasuk kekayaan Indonesia? Sebab dari total area hutan sagu di dunia, Indonesia memiliki 1.000.000 hektar hutan sagu yang tersebar di beberapa provinsi atau menguasai 51,3% hutan sagu di dunia. Sebaran lahan pohon sagu terbesar di Indonesia terdapat di beberapa wilayah yakni Papua, Maluku, Riau, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.
Namun pembangunan pangan di Indonesia dititikberatkan pada pencapaian lima komoditi yaitu beras, jagung, gula, kedelai, dan daging sapi. Komiditi lainnya dinilai sebagai komoditi lokal yang berperan sebagai substitusi terhadap pangan utama tadi. Oleh karena itu, pangan lokal seperti sagu, umbi-umbian dan lain-lain apabila dikembangkan harus memiliki strategi pengembangan.
Minimnya pemberdayaan pohon sagu di Riau menyebabkan kuliner berbahan dasar sagu juga berkurang. Di Indonesia banyak sekali macam-macam kuliner khas nusantara dari berbagai bahan baku, tidak hanya dari lima komoditi pokok. Hal ini disebabkan karena negara kita terdiri dari beberapa pulau juga beberapa provinsi.
Keanekaragaman suku bangsa dengan budaya, bahasa, agama, dan adat istiadat yang berbeda-beda menciptakan aneka ragam kuliner yang menjadi cirri khas masing-masing daerah. Seperti kuliner khas Rupat Utara, Bengkalis yakni abuk-abuk. Makanan ini mulai langkah di daerah penghasil sagu tersebut. Maka dari itu penulis mengengkat pokokpembahasan ini sebagai tugas mata kuliah Pengantar Bisnis untuk mengetahui lebih lanjut apa permasalahan yang sebenarnya terjadi di daerah penghasil sagu itu sendiri.

1


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa itu kuliner abuk-abuk?
2.      Apa saja penyebab tidak berkembangnya bisnis tersebut?
C.    Tujuan
Tugas ini bertujuan untuk mengenal dan mengetahui seluk-beluk kuliner abuk-abuk.
D.    Manfaat
1.        Manfaat Teoritis
Penulis berharap tugas ini dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu mengenai keberagaman kuliner yang mulai langkah di Indonesia.
2.        Manfaat Praktis
a)        Tugas ini dapat menambah wawasan bagi masyarakat mengenai kuliner abuk-abuk.
b)        Tugas ini dapat menambah wawasan bagi pencinta kuliner agar lebih mengetahui kuliner khas Indonesia yang mulai langkah.

 2


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Kuliner Abuk-Abuk
Abuk-abuk adalah salah satu makanan khas Rupat. Pulau Rupat adalah sebuah pulau di Kabupaten Bengkalis, Riau. Pulau ini memiliki luas lebih kurang 1500 km2 dan dihuni sekitar 47.000 jiwa.
Di Rupat Utara, tepatnya di Desa Teluk Rhu, abuk-abuk biasanya dijual penduduk setempat. Salah satu pembuat abuk-abuk ini bernama Nahar. Dia biasa menjajakan Abuk-abuk dengan berkeliling menggunakan sepeda. Sebiji Abuk-abuk dijualnya seharga Rp 1.000.
Abuk-abuk yang memiliki cita rasa lezat ini merupakan sejenis kue basah. Bentuknya hampir mirip cone atau kerucut. Sagu merupakan bahan utama dalam proses pembuatan abuk-abuk. Selanjutnya ditambah parutan kelapa dan inti gula merah. Kemudian dibungkus daun pisang dan dimasak dengan cara dikukus. Rasanya manis dengan ukuran lebih kurang sekepalan tangan orang dewasa. Tekstur makanan ini juga cukup lembut.
Menurut Nahar panganan ini tergolong langka di Rupat Utara. Dia mengaku,  saat ini tinggal seorang dirinya yang menjual abuk-abuk.

3


B.     Penghambat Berkembangnya Bisnis Kuliner Abuk-Abuk
1.      Kualitas pengemasan produk abuk-abuk belum baik serta pemasarannya belum tertata menyebabkan pemasaran produk sagu masih sangat lemah.
2.      Terjadinya konversi lahan sagu menjadi lahan persawahan melalui program transmigrasi maupun penggunaan yang lain menyebabkan makin berkurangnya luas areal lahan sagu. Hal ini disebabkan karena aspek regulasi tentang sagu belum optimal. Hal ini juga disebabkan karena sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam pengembangan pangan lokal termasuk sagu belum berjalan dengan baik. Sehingga bahan pokok pembuatan abuk-abuk semakin sulit untuk ditemukan.
3.      Pengetahuan tentang sagu belum dikenal dengan baik oleh masyarakat nonsagu maupun pemerintah, Hal ini menyebabkan muncul penilaian terhadap makanan sagu sebagai pangan substitusi/pengganti serta masih kurang perhatian dalam pengembangannya
4.      Di sisi lain produsen juga memiliki modal yang terbatas untuk melakukan kegiatan pengembangan.

4


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Indonesia memiliki berbagai macam kuliner yang tersebar di seluruh pelosok negerinya, baik itu makanan maupun minuman. Saking banyaknya kuliner yang tercipta, tak jarang kuliner yang menjadi ciri khas dari suatu daerah itu terlupakan bahkan hilang dari daerahnya sendiri. Begitu pula hal yang terjadi dengan makanan khas Rupat yakni abuk-abuk. Banyak hal yang menyebabkan makanan berbahan dasar sagu ini hilang dari daerahnya sendiri, padahal Rupat adalah daerah penghasil sagu. Kekayaan sumber daya alam saja tidaklah cukup, tentunya harus dibarengi dengan sumber daya manusia yang berkualitas pula. Tak hanya itu, diperlukan pula peranan dan campur tangan pemerintah pusat terutama pemerintah daerah dalam usaha pengembangan sagu, baik dalam budidaya sagu maupun pengolahan hasil sagu tersebut.
B.     Saran
1.      Perlu peningkatan kualitas petani baik melalui proses pendidikan formal maupun nonformal seperti penyuluhan dan pelatihan. Dengan demikian, petani dapat meningkatkan sistem pengolahan sagu dari tradisional menjadi semi mekanis dan mekanis. Sehingga produsen makanan berbahan dasar sagu tidak kewalahan untuk mencari bahan baku pembuatan produk.
2.      Mengembangkan sagu sebagai komoditi pangan yang bergizi dan unggul baik untuk kebutuhan lokal, nasional maupun global. Perlu peningkatan kualitas makanan maupun penanganan dari hasil sagu baik kualitas gizinya maupun keragaman produk serta peningkatan kualitas kemasan produk. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani, produsen makanan maupun pendapatan asli daerah dan nasional melalui kreativitas usaha dari komoditi sagu.

5


DAFTAR PUSTAKA

6